si mbak

Hari ini menunggui kakak di sekolah.

Kalau hari-hari biasa, kakak sudah berani ditinggal. Nanti pulangnya dijemput lagi. Tapi hari ini ada kegiatan berenang. Mau ga mau saya harus ikut mengawasi kakak.

Buat ibu-ibu pengangguran seperti saya, kegiatan antar jemput anak sekolah bisa dilakukan sendiri. Lain dengan ibu bekerja yang mau ga mau, terpaksa menyerahkan tugas antar jemput sekolah ke si mbak.

Ada satu mbaknya teman si kakak yang bikin saya prihatin.

Saya ada di sebelah tangga luncuran ketika si anak jatuh. Refleks, saya peluk dan elus bagian kepala yang terbentur. si mbaknya datang, dengan nada bicara yang sangat kasar malah terkesan menghardik si anak. Saya diam saja.

Lalu kegiatan sudah selesai. Karena tempat mandi mengantri, saya biarkan anak saya bermain-main di dalam kolam. Saya juga melihat si anak tadi masi berada di kolam.
Si mbak datang. Dengan segala upaya dia menyeret si anak untuk segera naik dari kolam. Masih dengan nada bicara yang kasar, dia sibum mengancam sambil menyeret tangan si anak.

Ouch.
Kalau di sekolah yang banyak ibu-ibu saja perlakuan si mbak seperti itu ke si anak, bagaimana kalau dirumah? ketika tidak ada siapapun? Ngeri,saya.

Semoga, saya masih bisa terus ada buat kakak selama dia masih butuh saya. Semoga kakak tidak perlu berada di tangan orang yang salah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s