Kitara selalu senang membayar sendiri belanjaannya di kasir. Entah itu buku, pensil, atau sekeda beli sekotak susu uht. Dan dia akan sabar mengantri di kasir. Dan saya diminta melihat dari jauh.

Tapi beberapa kali, orang dewasa membuatnya frustasi. Mungkin karena badannya yang kecil, kadang-kadang dia diremehkan oleh orang-orang dewasa. Seperti contohnya kejadian di gramedia gandaria city. Kitara mengantri di belakang kakak yang sedang membayar, dan ketika tiba gilirannya, tiba-tiba seorang pria dewasa yang tampak sibuk mengobrol di ponsel dan merasa lebih berhak didahulukan daripada anak kecil ini, langsung menyodorkan nota dan uang tanpa menghiraukan ada anak yang sedang mengantri. Kitara menatap saya, putus asa. Untung mbak kasirnya baik. Dia mengingatkan si bapak bahwa adik kecil ini sudah mengantri duluan.

Ada lagi ketika membeli koin di arena permainan. Lagi-lagi seorang ibu dengan dandanan rapi, tanpa antri tiba-tiba menyodorkan uang. Tanpa menghiraukan ada anak kecil yang dia serobot antriannya. Lagi-lagi kitara menatap saya putus asa. Saya hanya tersenyum. Saya hanya bilang  memang ada orang-orang tertentu yang ga bisa antri. Dan itu tidak sopan ya…

Pernah juga di sebuah gerai rotiboy, kitara membayar dengan uang yang seharusnya masih ada kembaliannya. Mungkin karena mas-mas kasirnya merasa anak kecil ini ga butuh kembalian, kembalian dan nota tidak diberikan.

Untuk orang-orang dewasa yang merasa pernah melakukan tindakan tidak terpuji seperti diatas, seharusnya malu ya… seharusnya belajar lagi dari anak umur 5 tahun untuk menumbuhkan rasa ewuh pekewuh kalo kata orang jawa. Dan semoga anak-anak kalian tidak tumbuh menjadi orang-orang seperti kalian, supaya generasi selanjutnya jadi manusia-manusia yang kebih baik.

Advertisements

Capek

Boleh kan ya, istirahat sejenak dari segala hal yang bikin saya mikir?

ngerti ga sih, kalau saya juga butuh saat-saat buat sendiri, saat-saat buat bersama suami dan anak, saat-saat untuk menjauh dari segala hiruk pikuk drama yang tidak berkesudahan itu?

Biarkan saya hidup tenang dong…
Kalau telpon lebih dari tiga kali tetep ga diangkat, seharusnya tau diri bahwa yang ditelpon sedang ogah ditelpon. Kalaupun ada yang penting banget kan bisa sms

Frustasi

…selalu saja ada hal yang memaksa saya untuk jedot-jedotin pala ke tembok.

Frustasi, saya.

Hampir seminggu kitara dirawat di rumah sakit karena DB. Lelah, jiwa raga. Liat anak sakit, dengan lengan tertancap selang infus, sehari tiga kali saya harus rela anak saya disakiti untuk diambil darahnya, cukup bikin hati saya rasanya kayak disilet-silet.

image

Terjaga semalaman karena khawatir. Tapi saya ikhlas menjalani karena saya yakin pasti selalu ada hikmah dibalik semuanya. Saya yakin Allah tau yang terbaik buat kami.

Bantuan support dan doa dari teman-teman, baik yang dekat maupun yang jauh, jadi penyemangat. Terima kasih ya semuanya…

Bukan itu yang membuat saya pengen jedotin pala ke tembok.

Ada beberapa hal yang membuat saya merasa tersakiti.

Pertama, ketika kakak saya bilang bahwa saya kurang perhatian sama anak saya. Biarin deh. Yang penting Tuhan tau seperti apa sayang saya ke anak saya. Biarlah orang lain menyakiti dan menghakimi.

Kedua, tuntutan untuk.membuat anak saya gendut. Kurus, wajarlah. Hampir 2 minggu dia sakit. Ditambah lagi ketika giginya hampir tanggal, selera makannya berkurang. Saya anggap itu wajar. Orang dewasa juga males makan kali, kalau giginya sakit. Walaupun gitu, saya tetap kok, berusaha memasukkan makanan sehat ke dalam tubuhnya. Membuatkan cookies dan brownies kesukaannya. Tuhan tau kok, apa yang saya lakukan walaupun ga ada yang liat.

Segala hal butuh proses. Untuk kembali seperti semula pun, kitara butuh proses. Saya ga paksa. Kapanpun dia siap, pasti dia akan kembali seperti semula. Tapi tekanan dari luar bikin saya sedikit frustasi. Dan saya tau kitara sama seperti saya, tekanan justru membuat dia jengah. Harus makan ini harus itu harus ini harus,harus,harus…tentu saja membuat dia ga nyaman yang malah bakalan bikin dia mogok.

Kitara cuma mau makan kue, cookies buatan momma. Mau dibeliin makanan se toko-tokonya, ga bakalan dia mau sentuh. Kitara cuma mau makan buah yang dia suka. Paksa dia untuk makan buah yang dia ga suka atau buah dalam bentuk jus, cuma bakal bikin dia tambah frustasi.

Kalau moodnya bagus, dia selalu cari makanan. Jadi saya selalu cari cara buat bikin moodnya bagus. wajarlah, toh meskipun mini, dia manusia juga. Bukan droid.

Kenapa kitara ga bisa gendut?
karena dia selalllu bergerak. Nonton tv pun, bukannya yang nonton diem duduk manis. Selalu ada aja yang bikin dia bergerak. Yah, namanya juga anak sehat. Kalo kata saya justru bagus sih….

Akhirnya saya cuma bisa hela napas saja. Apapun lah anggepan orang terserah aja. Mau anggep saya ibu ga bener, ibu ga bertanggung jawab, ibu yang ga ngurusin anak, terserah aja. Yang penting anak saya dan Tuhan tau apa yang saya lakukan…

Pindahaaaan

Akhirnya!

Setelah dua minggu terombang ambing dalam ketidak pastian *tsaahh…*, akhirnya kami berhasil menempati rumah kami secara paksa.

Lha? Rumah sendiri kok harus secara paksa?
Itu dia… Sebenernya rumah sudah beres, cuma kurang nutup bolongan eternit sama katanya mau di cat ulang. Tapi ditunggu-tunggu dua minggu ga beres-beres *kecurigaan saya mengatakan bahwa itu disengaja.supaya irit cat :p*

Ya udah lah kita tempatin aja besok. Tadi eternitnya sudah ditutup sih…tp pengerjaannya ya ampun asal-asalan banget. Tapi ya udah lah *hela napas pasrah*

Kitchen set pun sudah terpasang cantik di dapur kecil mungil nan imut-imut. Pemasangannya juga lumayan ribetski karena musti nyari tukang batu buat bolongin keramik yang dari developer. Dan… Mas-mas kitchen setnya agak ga yakin kalo tempat gas nya bisa dimasukin gas tabung besar -__-

Ini dia penampakannya.

image

Ada ga rapi di sana sini sih… Tapi ya udah lah. Alhamdulillah.

Istirahat dulu.
Besok bersambung pindahan part 2.

Jangan ajari anak untuk membenci

Hubungan keluarga saya dengan salah seorang kakak ipar, terbilang tidak cukup baik. Entah kenapa dia sepertinya sangat membenci kami. Padahal, hubungan ipar ini kan sudah termasuk hubungan keluarga, ya?

Suatu hari, anaknya main ke rumah ibu saya. Dan ibu terperangah karena anaknya berucap “semua yang disini itu jahat. eyang juga ga sayang sama aku. cuma pura-pura aja.” Ibu tanya dong, yang bilang siapa. Dia jawab : mama.

Ya Tuhan.
Anak sekecil itu diajar untuk membenci. Saudaranya sendiri. *speechless*muka terperangah ala sinetron*

Saya bukan mau puji-puji diri sendiri ni ya. Tapi, sejak dia mulai mengerti dan belajar mengenal, saya mengajarkan kitara untuk sayang sama semua saudaranya. Opa,Oma,Aunty,Om Andy,Eyang Uyut,Eyang (ibu saya). Saya ajarkan padanya siapa-siapa saja saudaranya dengan memperlihatkan foto lewat facebook.

Ga dipungkiri, hubungan saya dan keluarga suami pun ga semulus pipi saya *toyor*. Ada masa-masa dimana saya kesulitan beradaptasi. Ada masa-masa saya terlalu lelah untuk mengalah kepada adik. Tapi meski begitu, saya ga pernah terpikir untuk memaksa anak saya untuk membenci saudaranya. kenapa?  karena saya tau saya ga akan selalu ada buat kitara. someday dia akan membutuhkan keluarganya.

Saya bukan menjelekkan kakak ipar saya lho yaaa…
Saya cuma ngeri membayangkan kebencian yg ditanamkan di dalam diri anak sekecil itu.

Kalau punya anak, ajarkanlah kebaikan, yang akan terus dia bawa sampai dia bisa berdiri sendiri. Sebagai bekalnya untuk menjalani kehidupan yang tidak mudah. menurut saya sih gitu….

si mbak

Hari ini menunggui kakak di sekolah.

Kalau hari-hari biasa, kakak sudah berani ditinggal. Nanti pulangnya dijemput lagi. Tapi hari ini ada kegiatan berenang. Mau ga mau saya harus ikut mengawasi kakak.

Buat ibu-ibu pengangguran seperti saya, kegiatan antar jemput anak sekolah bisa dilakukan sendiri. Lain dengan ibu bekerja yang mau ga mau, terpaksa menyerahkan tugas antar jemput sekolah ke si mbak.

Ada satu mbaknya teman si kakak yang bikin saya prihatin.

Saya ada di sebelah tangga luncuran ketika si anak jatuh. Refleks, saya peluk dan elus bagian kepala yang terbentur. si mbaknya datang, dengan nada bicara yang sangat kasar malah terkesan menghardik si anak. Saya diam saja.

Lalu kegiatan sudah selesai. Karena tempat mandi mengantri, saya biarkan anak saya bermain-main di dalam kolam. Saya juga melihat si anak tadi masi berada di kolam.
Si mbak datang. Dengan segala upaya dia menyeret si anak untuk segera naik dari kolam. Masih dengan nada bicara yang kasar, dia sibum mengancam sambil menyeret tangan si anak.

Ouch.
Kalau di sekolah yang banyak ibu-ibu saja perlakuan si mbak seperti itu ke si anak, bagaimana kalau dirumah? ketika tidak ada siapapun? Ngeri,saya.

Semoga, saya masih bisa terus ada buat kakak selama dia masih butuh saya. Semoga kakak tidak perlu berada di tangan orang yang salah.

belajar!

Saya ini tinggal di kontrakan yang mepet-mepet sama tetangga. Jadi kalo rumah lagi sepi, saya bisa denger tuh kalo mbak tetangga ngomel ke anaknya. hihi.

Belakangan ini saya sering denger si mbak teriak-teriak ke anaknya karena anaknya ga mau belajar. Malamnya, si mbak teriak-teriak lagi. Kali ini ngajarin anaknya. Tapi dengan penuh teror, ancaman, dan makian.

Saya jadi kasian sama anaknya.
Ini ibu sendiri yang neror untuk jadi pintar. Belum lagi, tekanan yang di dapat disekolah. Yang begini malah bikin anak-anak jadi antipati sama yang namanya belajar. Denger kata brlajar pun udah males duluan.

Saya jadi ingat waktu saya kecil.
Saya ga pernah bisa belajar di tempat yang ramai dan berisik. Kakak saya ada 4. Tentu saja rumah ga pernah sepi. Tiap selepas jam makan malam, kakak perempuan saya selalu sudah standby di meja makan. Berbagai buku di jembreng di meja. Dia sibuk nulis-nulis. Pencitraan, ceritanya. Saya? main videogame, baca komik, baca majalah, coret-coret buku gambar. Ibu saya sering banget komentar, “Kayak mbak itu lho…rajin. Jangan main terus.”

Nilai-nilai saya toh tetap diatas rata-rata *nggaya*. Mbak saya? nilainya selalu dibawah rata-rata. Mungkin dia terlalu sibuk menulis, sampai-sampai tidak paham dengan apa yang di tulisnya.

Di SMP, baru saya menemukan cara jitu belajar dengan tenang. Saya susah tidur. Maka saya mulai baca buku ketika semua orang sudah tidur. Lebih efektif buat nyangkut di otak. Minusnya sih, karena ga ada yang liat, jadi ga ada pencitraan yang bikin saya terlihat oh-anak-ini-rajin-banget-deh.

Di sekolah anak saya, banyak ibu-ibu yang ngeluh karena sekolah terlalu banyak bermain. Kurang dipaksa buat belajar abjad sama belajar alquran. Ya menurut lo? Judulnya aja kelompok bermain. Playgroup. Ya kegiatan utamanya main lah! Bahkan ada ibu yang ekstrim mindahin anaknya ke sekolah lain supaya anaknya dipaksa belajar. Serem deh.

Beberapa kali, anak saya mogok sekolah. Dan saya selalu bilang, kalau ga sekolah nanti ga bisa main sama teman-teman lho. Ya memang, alasan utama saya masukin anak saya ke sekolah adalah supaya dia punya teman. Saya ga pingin dia dipaksa belajar pelajaran yang baru saya dapet di kelas 4 sd kok. Di rumah, saya sediakan mainan yang lumayan bikin dia belajar. Bahasa asing pun dia belajar sendiri lewat mickey mouse clubhouse. Televisi ga negatif-negatif amat kok buat anak. Asal jangan dikasi nonton sinetron yak!

Intinya sih, belajar itu ga perlu dipaksa. Jangan karena peer preasure antara ibu-
ibu yang kepingin tinggi-tinggian ranking, malah jadi ngorbanin anak sendiri dengan bikin mereka setres.