here we go again….

Okay.

I’m bringing this up again.

Beberapa waktu yang lalu saya pijet di rumah ibu. Konon ini tukang pijet mijetnya enak banget (yg ternyata ga juga. Pegel-pegel di badan saya ga ilang pun!). Pas sampai di perut, saya bilang jangan pijat perut, ada bekas operasi. Lagipula saya ga suka perut saya dipegang-pegang orang.

Kemudian si tukang pijit ini mengeluarkan pernyataan yang bikin saya ilfil. Dia bilang ke ibu saya, perempuan jaman sekarang ga mau sakit melahirkan, jadi milih di operasi saja (menurut lo? ga cuma sakit bertahun-tahun akibat perut disobek, masi sakit hati pula liat bill rumah sakitnya! ga sakit menurut lo?!). Ibu saya pun dengan tanpa memikirkan perasaan saya, mengiyakan dan mereka mulai saling berbangga bisa melahirkan lebih dari satu anak secara normal. Bayi yang bersih, gendut, lucu.

Saya bisa saja bilang bahwa jaman sekarang, perubahan hormon akibat makanan dan lingkungan, dan perkembangan ilmu pengetahuan, memberi efek pada cara manusia berkembang biak. tapi saya memilih pura-pura tidur saja. toh otak mereka ga bakal nyampe kalo saya jelaskan.

Dari sejak usia kandungan 3 bulan, kandungan saya bermasalah. Plasenta previa. Jalan lahir bayi saya tertutup. Dokter saya dengan sabar, dari bulan ke bulan mencoba menenangkan saya, siapa tau plasenta bisa bergeser dan bayi saya bisa lahir normal. Dan pada saatnya bayi lahir, plasenta itu sama sekali tidak bergeser. Tidak ada kontraksi. Tidak ada bukaan. Air ketuban sudah pecah. Dan terima kasih pada ilmu pengetahuan dan tehnologi, saya sampai saat ini masi bisa memeluk anak saya.

Okelah ibu saya dan si tukang pijet itu berhasil mengeluarkan bayi-bayi dari rahim secara ngeden. Tapi dimasa yang sama, ada perempuan-perempuan tertentu yang juga mengalami gangguan kehamilan seperti saya, karena minimnya ilmu pengetahuan dan tehnologi pada saat itu, kemungkinan tidak dapat memeluk bayi mereka. Banyak ibu yang kehilangan bayinya karena dukun bayi terlambat mengeluarkan bayi dari rahim ibunya. Tidak sedikit ibu yang juga harus meninggal karena tidak tahu ada gangguan dalam kehamilannya sehingga mempersulit proses kelahiran.

Saya bersyukur kok, sampai detik ini masi bisa peluk anak saya meskipun saya ngelahirinnya ga ngeden. Mungkin, kalau saya hanya di bantu dukun bayi, hari ini saya tidak bisa memeluk anak saya. Atau bahkan hari ini saya tidak bisa menulis blog ini.

Saya bersyukur hidup di jaman saya.

Advertisements

susu

buat ibuk2 yang baru punya balita ni ya, susu bisa jadi masalah sensitip banget.

Buat saya, si ating bisa lepas dari botol susu di usia ke tiga itu sudah luar biasa banget. Sebagai gantinya, saya berikan susu uht. Itu pun saya berikan setelah serangkaian riset dan mengumpulan data lewat mbokde google *hayah*. Secara logika pun, sebenarnya bisa dengan mudah disimpulkan bahwa susu bubuk itu dipertanyakan keutuhan kadar gizinya. Lha wong dari cair dijadikan bubuk. Ya pastinya si susu harus melewati serangkaian prosedur yang cukup membahayakan bagi si susu.

Memang sih, kalau lihat iklan-iklan susu formula yang gegap gempita menjanjikan anak anda cerdas kalau minum susu itu, bisa bikin orang tertarik tanpa merasa perlu mericek lagi. Buat saya, susu ya cuma susu. Bukan superfood. Anak saya ga bakalan jadi pinter cuma karena minum susu. Saya lebih senang liat anak saya lahap makan sayur dan buah. Saya mengurangi jatah susu anak saya bukan karena pelit, tapi karena dia lebih banyak makan sayur, buah dan keju. Saya pilih susu uht bukan karena malas cuci botol dan cuma pengen praktis, tapi saya justru memikirkan kesehatan anak saya. Saya ga kepingin thh, punya anak super jenius. Saya cuma kepingin anak saya tumbuh dengan sehat dan gembira. Dan itu adalah tugas saya untuk mengarahkan anak saya. Bukan peran si susu.

Saya tau, kadang saya terlihat sangat cuek dan ga perdulian. Tapi untuk anak saya, saya berusaha memberikan yang terbaik. Saya benci setengah mati pada diri saya, bahkan sampai sekarang, kalau mengingat saya tidak bisa melindungi anak saya dari jahatnya susu formula. Rumah sakit tempat saya melahirkan, mencekoki bayi saya dengan susu formula mahal karena alasan saya tidak bisa menyusui karena melakukan operasi caesar.